forum-nouveaumonde.org – Kasus child grooming semakin sering terungkap, terutama seiring masifnya penggunaan media sosial dan platform digital oleh anak-anak dan remaja. Sayangnya, praktik manipulatif ini kerap disalahartikan sebagai bentuk kasih sayang atau hubungan romantis. Padahal, menurut psikiater, child grooming sama sekali bukan soal cinta, melainkan pola perilaku predatoris yang berakar pada gangguan psikologis dan relasi kuasa yang timpang.

Child grooming adalah proses sistematis ketika pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak untuk tujuan eksploitasi, baik secara seksual, psikologis, maupun sosial. Pelaku biasanya tidak langsung menunjukkan niat buruk. Sebaliknya, mereka hadir sebagai sosok yang perhatian, suportif, dan memahami korban secara emosional. Inilah yang membuat grooming sangat berbahaya dan sulit dikenali sejak awal.

Menurut pandangan psikiater, salah satu pola psikologis utama pelaku grooming adalah kebutuhan akan kontrol dan dominasi. Pelaku mendapatkan kepuasan bukan dari hubungan setara, melainkan dari kemampuan memengaruhi, mengendalikan, dan memanipulasi korban yang secara usia dan mental masih rentan. Anak dianggap lebih mudah diarahkan, dibentuk, dan dibuat bergantung secara emosional.

Pelaku grooming juga sering memiliki distorsi kognitif, yakni cara berpikir yang menyimpang dalam membenarkan tindakannya. Mereka dapat meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan tersebut “saling menguntungkan”, “tidak menyakiti”, atau bahkan “dibutuhkan” oleh korban. Distorsi ini membuat pelaku merasa tidak bersalah, sekaligus berani melanjutkan perilaku berulang kali.

Pola lain yang umum ditemukan adalah kemampuan manipulasi emosi yang tinggi. Pelaku pandai membaca kebutuhan psikologis anak, seperti kebutuhan akan perhatian, pengakuan, atau rasa aman. Mereka kerap menargetkan anak yang sedang mengalami masalah keluarga, kesepian, atau kurang dukungan emosional. Dengan pendekatan bertahap, pelaku menciptakan ilusi kedekatan yang membuat korban merasa dipahami lebih dari siapa pun.

Psikiater juga menyoroti bahwa pelaku grooming sering memisahkan korban dari lingkungan sosialnya secara perlahan. Mereka menanamkan rasa tidak percaya pada orang tua, guru, atau teman sebaya, sehingga korban semakin bergantung pada pelaku. Isolasi ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi psikologis untuk mempermudah kontrol.

Penting dipahami bahwa dalam child grooming, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku, bukan korban. Anak tidak memiliki kapasitas psikologis yang setara untuk memberikan persetujuan yang sadar. Anggapan bahwa korban “terlibat secara sukarela” adalah narasi keliru yang justru memperparah dampak trauma.

Memahami pola psikologis pelaku grooming menjadi langkah penting dalam pencegahan. Edukasi kepada orang tua, pendidik, dan anak tentang tanda-tanda manipulasi emosional, batasan relasi yang sehat, serta keberanian untuk berbicara sangat krusial. Child grooming bukan kisah cinta tersembunyi, melainkan bentuk kekerasan psikologis yang merusak dan harus dihentikan sejak dini.

By calista

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *